Utilisasi industri rentan terpangkas Selasa, 13 Januari 09 - oleh : datin-1
Produsen sulit turunkan harga
JAKARTA: Pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) di seluruh cabang industri pengolahan (manufaktur) sepanjang tahun ini rentan terus terpangkas akibat melemahnya kinerja ekspor dan penurunan harga komoditas serta bahan baku.
Akibat kedua faktor tersebut, utilisasi di sektor ini sepanjang kuartal IV/2008 rerata telah tergerus sekitar 25% - 40%. Penurunan kinerja ekspor yang dipicu melemahnya daya beli konsumen dunia menyebabkan ekspor manufaktur pada 2009 sulit tumbuh sesuai dengan target pemerintah sekitar 8%.
"Melemahnya ekspor ini menandakan sebagian besar kegiatan industri akan terhenti. Secara otomatis, tidak akan ada lagi utilisasi ideal, bahkan industri kita akan beroperasi undercapacity [utilisasi di bawah 50%]," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, kemarin.
Analisis Sofjan sejalan dengan proyeksi Departemen Perindustrian. Instansi teknis ini memperkirakan beberapa sektor yang memangkas utilisasi cukup besar di antaranya tekstil dan produk tekstil (TPT), keramik, barang dari kulit dan alas kaki, dan IKM sekitar 30%-45% menjadi tinggal 55%-60%.
Ada pula cabang industri kertas dan percetakan, kelompok industri logam mesin dan elektronik, industri kayu dan hasil hutan, industri CPO (crude palm oil/CPO) dan kelompok industri kimia di kisaran yang sama.
Beberapa cabang industri lain mulai tertekan dampak berantai resesi ekonomi global dan memangkas utilisasinya seperti industri kendaraan bermotor dan alat transportasi (otomotif) mulai akhir kuartal IV/2008, serta makanan dan minuman.
Sebelumnya, industri otomotif nasional merupakan sektor yang berkontribusi cukup signifikan terhadap PDB dengan tingkat pertumbuhan 11,59% pada 2008. Namun, pada 2009 Depperin memproyeksikan pertumbuhan di sektor alat angkut justru merosot hampir 5% menjadi sekitar 7,7%.
Keadaan tersebut sejalan dengan langkah sejumlah prinsipal otomotif di dalam negeri yang mengurangi tingkat utilisasi pada tahun ini. Beberapa di antaranya PT Honda Prospect Motor telah memangkas 40% pada Desember 2008. Hal yang sama juga dilakukan Suzuki (40%). "Daihatsu bahkan meniadakan jam lembur untuk mempertahankan efisiensi," kata Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra, belum lama ini.
Penurunan harga komoditas dan bahan baku yang sangat cepat pada kuartal IV/2008 menyebabkan industri manufaktur nasional sulit menyesuaikan skala harga baru mengingat sisa stok bahan baku yang disimpan produsen dengan harga tinggi masih cukup besar.
Pilihan mempertahankan produk dengan harga lama akan membuat penjualn tertekan yang akhirnya menekan utilisasi pabrik.
"Di hilir, produsen masih enggan banting harga untuk produk jadinya sehingga akan terjadi proses tawar-menawar yang sangat ketat dengan para buyer asing. Pada sisi inilah produsen manufaktur kita terpojok," kata Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Dalam Negeri Bambang Soesatyo, kemarin.
Dia menilai pelemahan daya beli global akan memaksa industri lokal menurunkan posisi tawarnya. Ini jelas merugikan.
Penurunan harga
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Serat Sintetis dan Fiber Indonesia (Apsyfi) Kustardjono Prodjolalito menjelaskan penurunan harga bahan baku yang sangat cepat pada tahun lalu menyebabkan industri serat sintetis sangat sulit menyesuaikan penurunan harga.
"Penurunan harga ini bukan menyebabkan kami jadi efisien, tapi justru berpotensi merugikan perusahaan serat di dalam negeri sehingga sejumlah lini produksi vital terpaksa kami istirahatkan. Kalau mesin-mesin pabrik mati, aktivitas industri jadi berkurang," katanya, kemarin.
Penurunan utilisasi, lanjut Bambang, akan terhenti pada titik terendah 30%-35%, apabila penurunan harga komoditas primer seperti CPO, karet, dan bahan baku manufaktur a.l. bijih besi dan barang-barang dari besi baja, bahan plastik, serta bahan galian nonlogam masih berlangsung.
"Becermin dari keadaan itu, setidaknya pemerintah perlu mengambil langkah mengurangi beban industri dengan mempercepat realisasi stimulus fiskal Rp51 triliun dan mengamankan pasar domestik dari produk impor." (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)