PHK di sektor TPT berlanjut Kamis, 08 Januari 09 - oleh : datin-1
Perampingan karyawan untuk turunkan overhead cost
JAKARTA: Aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dipastikan masih berlanjut hingga akhir semester I/2009.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno mengatakan penyusutan pasar ekspor dan keringnya likuiditas modal kerja menjadi masalah besar di industri ini.
Hingga akhir Desember 2008, ungkapnya, jumlah buruh TPT yang terkena PHK telah mencapai 24.000 orang, termasuk di sektor pakain jadi (garmen) sebanyak 6.000 orang. Subsektor yang banyak melakukan PHK di antaranya dari benang (spinning) dan kain (weaving, dyeing/finishing).
"Rata-rata hampir semua perusahaan besar seperti PT Apac Inti Corpora, PT Indo Bharat Rayon, PT Indorama, PT South Pacific Viscose, melakukan PHK massal," jelas Benny kepada Bisnis, kemarin.
Dia menambahkan perusahaan serat sintetis (poliester) anggota Asosiasi Produsen Serat Sintetis dan Fiber Indonesia (Apsyfi) juga telah menempuh langkah serupa. Tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang sektor serat sintetis, lanjutnya, telah terpangkas 40%.
"Industri serat sintetis sudah menurunkan produksi tinggal 60%. Ini adalah kejadian yang sebenarnya. Hanya saja, beberapa di antara perusahaan-perusahaan TPT itu ada yang tidak melaporkan [kepada pemerintah telah melakukan PHK]."
Dia memperkirakan PHK massal akan terus terjadi pada Januari hingga Juni 2009. Pada periode ini setidaknya ada tambahan sekitar 30.000 orang lagi yang akan dirumahkan.
"Apabila utilisasi masih terus menurun, menurut proyeksi kami akan ada sekitar 54.000 orang yang terkena PHK sejak November 2008. Untuk periode Juli-Desember, belum dihitung. Kami akan melihat efektivitas stimulus fiskal pemerintah. Kalau stimulus tidak segera cair, keterpurukan semakin besar."
Seluruh karyawan yang terkena PHK massal itu, jelasnya, dijamin akan tetap mendapatkan pesangon sedikitnya 24 bulan gaji. Adanya perampingan karyawan itu diharapkan bisa menurunkan overhead cost perusahaan.
"Kami telah memperhitungkan semuanya. Jadi, selama 2 tahun itu seolah-olah mereka masih bekerja dengan gaji utuh," jelasnya.
Ekspor turun
Pada kuartal IV/2008, lanjut Benny, industri TPT telah dihantam penurunan pasar ekspor dan domestik sehingga menurunkan biaya rutin perusahan. Dari sisi ekspor, akan terjadi penurunan di sektor kain dan benang sekitar 4%-5% mengingat banyaknya negara yang mengenakan antidumping terhadap tekstil Indonesia seperti Turki dan Brazil.
Bahkan, lanjutnya, UE siap mengenakan sanksi bagi produk kain yang menggunakan bahan kimia.
"Mereka telah mengenakan aturan macam-macam. Jadi, free trade itu adalah kegiatan trading yang di-manage atas kepentingan nasional mereka. Negara-negara neoliberal itu bohong semua."
Benny yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Distribusi dan Logistik menambahkan lembaga keuangan domestik juga sedang terguncang dengan persoalan sementara bunga kredit masih sekitar 18%.
Penurunan BI Rate dari 9,25% menjadi 8,75% tak akan berdampak apa-apa jika suku bunga kredit tidak segera diturunkan signifikan. Sebenarnya, dia melanjutkan, likuiditas berupa dana pihak ketiga masih besar, bahkan mencapai Rp1,3 triliun.
"Tapi, dana itu disimpan di bank mana? Sebab, bank-bank kecil menengah masih kesulitan likuiditas. Bukopin dan BTN setengah mati nyari duit, sedangkan sesama bank sudah tidak saling percaya. Kebijakan moneter harus secepatnya disinergikan dengan fiskal dan administrasi." (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)